Pilpres 2019 Memilih atau Golput? Jadilah Pengguna Hak Pilih Yang Cerdas

ilustrasi massa

JURNAL AKTUALINDO.- Pemilihan presiden (pilpres) tinggal beberapa bulan lagi. Perdebatan antara kelompok orang yang tidak memilih atau dikenal dengan golongan putih (golput) dan anti golput kembali santer. Jumlah kelompok golput dalam pilpres 2019 diperkirakan akan meningkat.

Sebelum jauh sebaiknya jawab dulu pertanyaan berapa jumlah total pemilih tetap di Pilpres 2019? Sebagai informasi berdasarkan rekapitulasi Komisi Pemilihan umum (KPU) Republik Indonesia merilis jumlah Daftar Pemilih Tetap (DPT) untuk Pemilu 2019. Total DPT tercatat 185.994.249 juta jiwa pemilih.

Bacaan Lainnya

Rekap KPU tersebut didasarkan pada berita acara penetapan DPT di 514 Kabupaten/Kota pada 34 provinsi jumlah TPS sebanyak 801.291 dan jumlah pemilih sebanyak 185.994.249,” per 28 Agustus 2018 lalu.

Kembali pada Tren golput terjadi kenaikan di setiap periode ini sejalan dengan yang terjadi di pilpres sebelumnya. Data menunjukkan jumlah golput naik dari 48,3 juta orang pada pilpres tahun 2009 ke 58,9 juta orang di pilpres 2014. Tulisan ini bertujuan mengupas argumentasi yang dilontarkan kedua kubu agar bisa menjadi bahan pertimbangan untuk masyarakat agar secara sadar dan yakin untuk menentukan sikap politiknya.

Jikapun persentase golput menjadi 50 persen, pemilihan presiden tidak otomatis menjadi batal. Tidak juga menjadikan legitimasi pemilihan presiden menjadi tidak sah. Mulai sekarang tentukan pilihan dengan jurus cerdas memilih dengan memperhatikan petunjuk sebagai berikut:
1. Pantau kandidat calon wakil presidennya. Benar-benar dirasa mampu mengimbangi calon presiden atau tidak?
2. Lihat juga para pendukung calon presidennya, adem atau rusuh? Gontok-gontokan atau tidak?
3. Lihat juga calon presidennya, rekam jejaknya, tunduk pada kemauan ormas atau tidak?
Nah, dari situ anda bisa menelaah secara kasat mata, mana yang kira-kira bisa membawa Indonesia ini pada kemajuan dan lebih baik, atau justru membawa Indonesia pada perubahan yang lebih buruk.

Sejarah golput di Indonesia

Istilah golput di Indonesia berasal dari gerakan golongan putih yang digalakkan aktivis Arief Budiman. Gerakan ini berawal dari gerakan protes atas penyelenggaraan pemilihan umum (pemilu) pada masa Orde Baru pada tahun 1971. Gerakan golput semacam itu bisa dianggap sebagai gerakan politis dan bukan merupakan bentuk dari apatisme politik.

Golput atau Golongan Putih adalah gerakan spontan yang pertama kali dicetuskan oleh Imam Waluyo, namun justru yang terkenal adalah Arief Budiman, karena dialah yang menggelorakan gerakan tersebut. Keduanya adalah bagian dari aktivis eksponen 66, yang sebenarnya menjadi ujung tombak jatuhnya Orde Lama dan munculnya Orde Baru.

Lalu kenapa justru mereka berbalik menentang Orde Baru saat Pemilu 1971 yang notabene adalah Pemilu pertama era Rezim Orde Baru? Mereka mengklaim bahwa itu adalah gerakan protes akibat hemogoni Orde Baru yang memberangus kebebasan berpendapat. Mereka menginginkan agar rakyat dapat menyuarakan pendapatnya tanpa diintimidasi dan dikekang kebebasan berpolitiknya.

Dahulu, golongan putih menyasar pemilihan legeslatif atau memilih anggota dewan yang diwakili oleh partai politik. Dan sekarang, golongan putih juga menyasar pada pemilihan presiden. Golput bisa diartikan sebagai tidak memilih. Tidak memiliki pilihan karena yang harus dipilih tidak dianggap mewakili kepentingannya.

Cara-cara golput biasanya dilakukan dengan berbagai cara, seperti tidak datang ke Tempat Pemungutan Suara atau TPS, bisa juga mencoblos semua calon di kertas suara, mencoblos bagian putih kertas suara, atau juga tidak mencoblos sama sekali, jadi kertas suara dibiarkan bersih.

Sejak tahun 2004, awal dimulainya pemilihan presiden secara langsung, tren golongan putih makin mengkhawatirkan. Jika dilihat dari grafik golongan putih, maka grafiknya semakin membesar.

a. Pada pemilihan presiden 2004, jumlah golput sebesar 21,77 persen.
b. semakin besar pada pemilihan presiden 2009, bertambah jadi 23,37 persen.
c. Lalu pada pemilihan presiden putaran kedua tahun 2009, jumlah golput tercatat sebesar 27,44 persen.
d. Yang paling terakhir, pada pemilihan presiden tahun 2014, jumlah golput tercatat sebesar 29,8 persen.

Berdasarkan jumlah DPT atau Daftar Pemilih Tetap yang terdaftar sebesar 190.307.134, maka yang tidak menggunakan hak pilihnya adalah sebesar 56.732.857. Ini sungguh jumlah yang besar. Dan disinyalir, pada gelaran pilpres tahun 2019, jumlah golput akan bertambah besar.

Golput sebagai wujud apatisme politik bisa disematkan ketika seseorang memilih untuk tidak memilih hanya karena dia tidak peduli pada situasi politik yang terjadi. Hal ini merugikan proses demokrasi. Sedangkan golput yang dilandasi alasan ideologis bisa menguntungkan proses demokrasi karena sikap tersebut bisa dianggap sebagai kritik yang positif.

Bahkan dalam pandangan mantan presiden Abdurrahman Wahid, yang biasa dipanggil Gus Dur, gerakan golput tidak hanya untuk memberikan kritik pada sistem yang dianggap lalim tapi juga memperbaiki sistem demokrasi pascareformasi. Dengan alasan tersebut, Gus Dur menunjukkan secara terbuka sikap golputnya pada pemilu 2004.

Sayangnya, ada juga pemilih Indonesia yang tidak memilih karena tidak peduli pada politik. Bisa dikatakan naiknya jumlah kelompok golput dari satu digit pada pilpres pertama tahun 1999 ke dua digit 10 tahun berikutnya adalah karena alasan politis dan apolitis. Faktor yang menyebabkan perubahan tersebut adalah meningkatnya ketidakpercayaan masyarakat pada pemerintah dan lembaga tinggi negara.

KPU sendiri sejak lama telah menargetkan tingkat partisipasi rakyat dalam pemilihan presiden adalah sebesar 75 persen, namun tampaknya usaha KPU belum membuahkan hasil. Meskipun KPU telah melakukan kampanye untuk memberi himbauan agar tingkat pastisipasi rakyat dalam pemilihan presiden semain besar, justru tingkat golputnya yang justru bertambah besar.

Yang jadi pertanyaan, partai politik banyak, pilihan banyak, keterwakilan banyak, lalu kenapa jumlah golput justru semakin besar? Banyak jawaban untuk hal ini.

Pertama :
Rakyat semakin muak dengan tingkah polah politisi yang selalu mempertontonkan ketidakberpihakan kepada rakyat. Lain dimulut, lain dipelaksanaan. Janji tinggal janji.

Kedua :
Partai dianggap sebagai penipu. Saat pilpres bisa saja mereka berseberangan, tapi saat selesai gelaran pilpres, mereka berkoalisi, tawar menawar dukungan demi kedudukan para kader atau pimpinannya. Ini dianggap membohongi konstituennya yang bisa saja membenci salah satu partai, tapi partai pilihannya malah mesra-mesraan dengan partai yang dibencinya.

Ketiga :
Calon presiden bukan pilihannya. Semua calon presiden bukan orang yang diharapkan. Dia bisa jadi punya pilihan lain, sehingga percuma saja kalau ikut dalam pemilihan presiden dengan menggunakan hak pilihnya, karena calon yang diharapkan tidak ikut serta dalam daftar calon presiden.

Keempat :
Tidak mau ikut terlibat dalam dosa. Ini ada lho. Mereka menganggap kalau memilih salah satu calon yang jadi kandidat, andai salah memilih, mereka akan merasa berdosa selama 5 tahun kedepan, bahkan berlanjut sampai bertahun-tahun kemudian, karena pastinya kebijakan presiden yang jadi pilihannya akan berimbas dimasa depan dalam perjalanan negeri ini.

Kelima :
Sikap apatis. Biasa mereka adalah kaum yang termarjinalkan, atau kaum yang tersisih. Mereka menganggap bahwa ratusan kali pemilihan presidenpun, nasib mereka akan sama, tak akan berubah. Mereka hanya akan menjadi pion yang hanya akan dikorbankan para penguasa. Akan tetapi sikap apatis ini juga menyerang kaum terpelajar. Mereka para intelektual muda biasanya menganggap bahwa pemilihan presiden hanya ajang lucu-lucuan, panggung sandiwara yang dilakoni oleh para politisi dengan topeng manis padahal dibalik topeng mereka, mereka menyeringai buas.

Melihat semakin dekatnya pemilihan presiden, dan calon yang akan tampilpun semakin jelas, yaitu kemungkinan hanya ada 2 calon presiden, Joko Widodo dan Prabowo Subianto, makin greget sepertinya gerakan golput ini. Ditambah lagi mungkin yang akan tampil sebagai calon wakil presiden adalah orang-orang yang tidak disukainya, maka bisa jadi para pemilih Joko Widodo atau Prabowo Subianto akan mengurungkan niatnya mendukung salah satu dari mereka, dan pada akhirnya mereka akan bersikap masa bodo yang ujung-ujungnya akan golput.

Lalu, bagaimana dengan anda semua hari ini? Apakah akan ikut menjadi golput juga? Ingat kawan, ini bukan dunia persilatan yang jika kita membaca, ada yang namanya golongan putih dan golongan hitam. Golongan putih adalah golongan benar yang mewakili kebaikan, golongan hitam adalah golongan salah yang mewakili kejahatan. Disini, dalam pemilihan presiden, jika anda menjadi bagian dari golput, maka anda kehilangan hak anda untuk menentukan nasib bangsa.

Semuanya berpulang kepada anda. Hak ada pada diri anda sendiri dan menjadi bagian dari pemilihan presiden tetap bukan kewajiban. Silakan, anda mau menjadi bagian dari perubahan Indonesia, atau akan menjatuhkan pilhan menjadi bagian dari golongan putih. (7o3Rn4L: Desk __ Pileg-Pilpres 2019)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *