Pendiri Jaringan Islam Liberal Gus Ulil Abshur Abdala Tak Ingin Menambah Gerah Situasi Politik

Gus Ulil Abshur Abdala (tengah, baju hitam)

Depok, JAI – Pendiri Jaringan Islam Liberal Gus Ulil Abshur Abdala mengaku, mengapa dirinya tidak mau ikut hingar bingar politik Pilpres dewasa ini, tidak ingin menambah “Sumuk” situasi karena sudah banyak yang ikut.

“Aku tidak mau menambah “Gerah” situasi perpolitikan di Indonesia. Yang ikut dalam hingar bingar pemilu ini sudah banyak dan kadang terlalu banyak,” ujarnya. Sehinga banyak orang menjadi “gerah” atau sumuk dalam bahasa Jawanya sehingga dirinnya tidak ingin menambah sumuk situasi kebangasaan ini.

Bacaan Lainnya

“Kita harus berada ditengah-tengah gemuruh Pilpres dengan menjaga agar Rasa Kebangsaan kita ini tidak lebih terkoyak. Selama gemuruh Pilpres ini kita harus memaklumkan ada kata-kata, ungkapan-ungkapan, pernyataan yang saling menusuk satu dengan lainnya,” ujarnya meyakinkan.

Menurutnya, ungkapan-ungkapan yang saling menohok ini akan berbahaya dan dapat lebih merusak Rasa Kebangsaan dan Rasa Keagamaan kita. “Oleh karena itu kita harus tetap menjaga kesabaran dan kepala dingin ditengah-tengah gemuruh Pilpres ini, meskipun kita semua orang sudah punya pilihan masing-masing, atau gak punya pilihan atau bahkan tidak peduli sama sekali situasi dan keadaan ini. Apapun posisi politik kita, kita harus tetap menjaga situasi dan kondisi politik sekarang ini agar tetap kondusif menghadapinya dengan kepala dingin,” tegasnya.

Gus Ulil Abshur Abdala, Pendiri Jaringan Islam Liberal

Hal itu diungkapakan Gus Ulil abrar Abdala dalam Diskusi Kebangsaan Lintas Agama dengan Tema “Membangun Hubungan yang Harmonis antar Umat Beragama, Partisipasi Aktif Umat Katolik di Pesta Demokrasi” yang digelar di Paroki Santo Herkulanus Jl. Irian Depok Jaya, Depok hari ini, Sabtu (02/03/2019).

Dikatakan, “Jangan juga kita menambah nambahi secara emosional, sehingga suasana menjadi lebih panas dalam perpolitikan di Indonesia ini”.

Menyinggung tentang hasil salah satu hasil Musyawarah Nasional NU , Gus Ulil Abshur Abdala mengatakan, secara pribadi dirinya merasa senang dengan keputusan Munas NU ini, sangat penting untuk memperkokoh hubungan antara Rasa Kebangsaan dengan Rasa Keagamaan.

“Karena salah satu hasil keputusan Munas ini, diantaranya menyatakan, bahwa warga Indonesia yang non Muslim itu diangap sebagai warga negara, bukan sebagai kafir,” ucapnya. Karena sekarang istilah kafir itu juga sering digunakan secara “salah kaprah” dan kadang menyakiti orang lain.

Dewasa terasa sekali rasa percaya antara umat itu kurang sekali, umat Islam mestinya membuat percaya umat di luar muslim dan umat non muslim memberikan kepercayaan kepada umat di luar umatnya, dan untuk sampai kepada “kata Klik” itu sulit sekali, jika dahulu jaman Suharto mudah sekali. Sekarang ini tidak bisa lagi, karena setiap orang dapat menulis , di twitters, face book dll yang pada akhirnya dapat mengurangi rasa kebangsaan,” ungkapnya.

Dialog Kebangsaan yang berlangsung di Gedung Paroki Santo Hekulanus diikuti tokoh agama, pemuda, pendeta dan aktifis keagamaan. Bertindak sebagai pembicara Peiter Lesmana, Ketua DPRD Depok Hendrik Tangki Alo, I Ñyoman Budi Sastra SH, serta Handoyo Budi Senjati SH, dibuka Wakikota kota Depok Depok. (Wismo)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *