February 28, 2020

Menyingkap Fakta, Tatanan dan Histori Nanggroe Aceh Darussalam

Peta Provinsi Aceh

Jurnalaktualindonesia.com.- Aceh adalah sebuah provinsi di Indonesia yang beribu kota Banda Aceh. Aceh merupakan salah satu provinsi di Indonesia yang diberi status sebagai daerah istimewa dan juga diberi kewenangan otonomi khusus.

Aceh terletak di ujung utara pulau Sumatra dan merupakan provinsi paling barat di Indonesia. Jumlah penduduk provinsi ini sekitar 4.500.000 jiwa. Letaknya dekat dengan Kepulauan Andaman dan Nikobar di India dan terpisahkan oleh Laut Andaman. Aceh berbatasan dengan Teluk Benggala di sebelah utara, Samudra Hindia di sebelah barat, Selat Malaka di sebelah timur, dan Sumatra Utara di sebelah tenggara dan selatan.

Wilayah administrasi Daerah tingkat II Provinsi Aceh dibagi menjadi daerah kabupaten dan kota. Sejak tahun 1999, Provinsi Aceh telah mengalami beberapa pemekaran wilayah. Sampai saat ini wilayah administrasi provinsi terbagi menjadi 18 kabupaten dan 5 daerah kota. Wilayah administrasi tersebut terbagi lagi atas 257 kecamatan, 693 mukim, 6335 gampong, dan 112 kelurahan

Lambang Aceh adalah Pancacita. Pancacita adalah lima cita, yaitu keadilan, kepahlawanan, kemakmuran, kerukunan, dan kesejahteraan. Lambang Aceh berbentuk persegi lima yang menyerupai kopiah. Dalam perisai itu terdapat lukisan-lukisan sebagai berikut:

  1. Dacin (Alat Timbangan),
  2. Rencong,
  3. Padi, Kapas, Lada, Cerobong Pabrik,
  4. Kubah Masjid (Di Antara Padi Dan Kapas),
  5. Kitab Dan Kalam.

Keadilan dilambangkan dengan dacin. Kepahlawanan dilambangkan dengan recong. Kemakmuran dilambangkan dengan padi, kapas, lada, dan cerobong pabrik. Kerukunan dilambangkan dengan kubah masjid. Sedangkan kesejahteraan dilambangkan kitab dan kalam.

Kilas Sejarah Aceh

Aceh yang sekarang dikenal sebagai provinsi Aceh diperkirakan memiliki substrat (lapis bawah) dari rumpun bahasa Mon-Khmer   dengan pembagian daerah bahasa lain seperti bagian selatan menggunakan bahasa Aneuk Jame sedangkan bagian Tengah, Tenggara, dan Timur menggunakan bahasa Gayo untuk bagian tenggara menggunakan bahasa Alas seterusnya bagian timur lebih ke timur lagi menggunakan bahasa Tamiang demikian dengan kelompok etnis Klut yang berada bagian selatan menggunakan bahasa Klut sedangkan di Simeulue menggunakan bahasa Simeulue akan tetapi masing-masing bahasa setempat tersebut dapat dibagi pula menjadi dialek.

Bahasa Aceh, misalnya, adalah berbicara dengan sedikit perbedaan di Aceh Besar, di Pidie, dan di Aceh Utara. Demikian pula, dalam bahasa Gayo ada Gayo Lut, Gayo Deret, dan dialek Gayo Lues dan kelompok etnis lainnya Singkil yang berada bagian tenggara (Tanoh Alas) menggunakan bahasa Singkil. sumber sejarah lainnya dapat diperoleh antara lain seperti dari Hikayat Aceh, Hikayat Rajah Aceh dan Hikayat Prang Sabi yang berasal dari sejarah narasi yang kemudian umumnya ditulis dalam naskah-naskah aksara Jawi (Jawoe).

Namun sebagaimana kelemahan dari sejarah narasi yang berdasarkan pinutur ternyata menurut Prof. Ibrahim Alfian bahwa naskah Hikayat Prang Sabi (Aceh: Hikayat Perang Sabil) mempunyai banyak versi dan satu dengan yang lain terdapat perbedaan demikian pula dengan naskah Hikayat Perang Sabil versi tahun 1710 yang berada di perpustakaan Universitas Leiden di negeri Belanda

Rumpun bahasa Mon-Khmer:

Ada yang percaya bahwa asal usul orang Aceh adalah “suku Mantir” (atau dalam bahasa Aceh: Mantee) yang dikaitkan dengan “Mantera” di Malaka dan orang berbahasa Mon-Khmer. Menurut sumber sejarah narasi lainnya disebutkan bahwa terutama penduduk Aceh Besar tempat kediamannya di kampung Seumileuk yang juga disebut kampung Rumoh Dua Blaih (desa Rumoh 12), letaknya di atas Seulimeum antara kampung Jantho dengan Tangse. Seumileuk artinya dataran yang luas dan Mantir kemudian menyebar ke seluruh.

Aceh merupakan daerah istimewa yang secara resmi disebut Nanggroe Aceh Darussalam atau disingkat NAD. Provinsi ini memiliki perjalanan sejarah yang cukup panjang. Aceh adalah daerah pertama yang mempunyai hubungan langsung dengan dunia luar. Pada masa kejayaannya, tepatnya pada masa Kerajaan Samudera Pasai, provinsi ini memegang peranan penting bagi jalur perdagangan internasional, karena posisinya yang strategis.

Karena letaknya yang strategis pula, Kerajaan Samudra Pasai waktu itu berkembang menjadi kerajaan Islam yang kuat. Bertolak dari sejarah itulah, pantaslah kiranya provinsi ini memiliki keistimewaan dibandingkan dengan provinsi lain.

Provinsi Aceh mendapat sebutan Serambi Mekah karena mayoritas penduduknya beragama Islam. Di Aceh Syariat Islam benar-benar diberlakukan kepada sebagian warganya yang menganut agama Islam. Islam memang agama yang dominan, sementara agama kristen, katolik, hindu, dan buddha dianut oleh sebagian masyarakat lainnya yang berketurunan Jawa, Cina, Batak, dan India.

Batas Wilayah Aceh

Secara geografis Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam terletak pada posisi 2 derajat – 6 derajat LU – 95 derajat – 98 derajat BT. Provinsi yang terletak di sebelah ujung utara Pulau Sumatra ini memiliki batas-batas wilayah sebagai berikut:

  1. Sebelah utara berbatasan dengan Laut Andaman
  2. Sebelah timur berbatasan dengan Selat Malaka.
  3. Sebelah selatan berbatasan dengan Provinsi Sumatra Utara, dan
  4. Sebelah barat berbatasan dengan Samudera Indonesia.

Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang pemerintahan daerah (pasal 18), menyebutkan bahwa Provinsi Aceh juga memiliki wilayah laut, yaitu laut teritorial dan laut kepulauan. Luas wilayah daratan Aceh yang beribu kota di Banda Aceh adalah 57.365,57 km persegi atau 5.736,557 ha.

Adapun rincian penggunaan lahannya, meliputi:

  1. Perkampungan/pemukiman seluas 110.715,55 ha
  2. .Industri seluas 3.441,03 ha
  3. .Pertambangan seluas 516,29 ha
  4. Persawahan seluas 289.122,47 ha
  5. Pertanian tanah kering seluas 136.530,00 ha
  6. Tanaman semusim seluas 329.852,03 ha
  7. Perkebunan besar seluas 308.053,11 ha
  8. Perkebunan kecil seluas 223.725,17 ha
  9. Hutan seluas 3.946.317,56 ha
  10. Perairan darat seluas 13.825,17 ha
  11. Tanah terbuka seluas 18.930,64 ha
  12. dan lain-lain seluas 13.825,17 ha

Sementara itu, Provinsi Aceh juga memiliki 2 danau, 35 gunung, 73 sungai, dan 119 pulau.

Iklim Aceh

Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam merupakan daerah beriklim tropis dengan dua musim, yaitu musim kemarau dan musim penghujan. Musim kemarau terjadi pada bulan Maret sampai dengan Agustus. Musim penghujan terjadi dari bulan September sampai dengan Pebruari.

Hal ini berkaitan erat dengan posisinya yang terletak di sekitar garis khatulistiwa. Curah hujan di pesisir timur dan utara berkisar antara 1.000 mm – 2.000 mm per tahun. Sementara itu, di bagian tengah, pesisir barat dan selatan curah hujannya lebih tinggi antara 2.000 – 3.000 mm pertahun. Adapun suhu maksimum rata-rata antara 23 – 35 derajat Celcius dengan kelembapan nisbi udara antara 65 – 75%.

Lambang Nanggroe Aceh Darussalam

Lambang Nanggroe Aceh Darussalam diambil dari kopiah Aceh berbentuk segi lima. Pada lambang tersebut juga terdapat beberapa si,bol dan warna yang mempunyai makna mendalam bagi masyarakat Provinsi Aceh.

Arti Lambang Provinsi Aceh

Bentuk lambang segi lima tersebut mengisyaratkan falsafah hidup rakyat dan Pemerintah Provinsi Aceh. Falsafah hidup rakyat dan pemerintah Aceh itu disebut Pancasila. Pancasila yang dimaksud meliputi hal-hal sebagai berikut:

Cinta keadilan.

Cinta keadilan dilambangkan dengan gambar dacin.

Cinta kemakmuran, dilambangkan dengan gambar padi, lada, kapas, dan cerobong. Padi melambangkan bahan pangan pokok, lada melambangkan kekayaan utama Aceh pada masa lampau, kapas melambangkan bahan sandang utama, cerobong melambangkan industrialisasi.

Cinta kerukunan, dilambangkan dengan gambar kubah masjid.

Cinta kesejahteraan, dilambangkan dengan gambar kitab dan kalam. Kitab dan kalam tersebut melambangkan kesejahteraan yang menjadi idaman dan tujuan kita hendaklah berlandaskan ilmu pengetahuan.

Adapun warna-warna pada lambang tersebut mengandung makna sebagai berikut:

– Warna dasar putih bermakna kemurnian.

– Warna kuning bermakna kejayaan.

– Warna hijau bermakna kesejahteraan dan kemakmuran.

Selain memiliki lambang daerah, Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam juga memiliki maskot atau identitas daerah. Maskot atau identitas daerah tersebut berupa jenis flora dan fauna. Maskot flora berupa bunga jeumpa atau lebih dikenal bunga cempaka. Bagi masyarakat Aceh, bunga tersebut mempunyai nilai estetika, sehingga jika ditanam di pekarangan rumah. Tanaman bunga ini juga memiliki nilai ekonomi.

Sementara itu, maskot faunanya berupa burung cempala kuneng atau burung murai kuning, atau murai emas. Di Provinsi Aceh, jenis burung ini telah dikenal sejak lama, bahkan sejak zaman Sultan Iskandar Muda. Namun, keberadaannya terancam punah. Adapun alasan pemilihan burung ini sebagai maskot daerah agar tidak punah.  (7o3Rn4L)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *