Kacau, Jika Zinah Itu di Legalkan

Abdul Aziz Mahasiswa yang sedang mengambil program doctor di UIN Sunan Kalijaga, Jogyakarta.

Jurnalaktualindonesia.com.- Sungguh miris dan amat prihatin, di zaman yang sudah sangat tipis beda kebiasaan binatang dan manusia dalam mengendalikan syahwatnya, keadaan seperti ini bikin miris, ketakutan gulitanya zaman dari kerusakan adab dan susila. Lebih parah lagi kini muncul pemikiran kaum akademik seperti dalam sebuah Disertasi mahasiswa yang sedang mengambil program doctor di UIN Sunan Kalijaga, Jogyakarta.

Di mana, nama Abdul Aziz mendadak tenar di dunia maya membuat disertasi kontroversial denagn judul “Membolehkan Seks Diluar Nikah Atas Dasar Suka Sama Suka”. Dalam disertasinya, Aziz mengemukakan konsep milkul yamin seorang intelektual asal Suriah, Muhammad Syahrur. Dalam konsep itu, dikatakan bahwa berhubungan badan boleh dilakukan dalam batas-batas tertentu, tanpa perlu adanya ikatan pernikahan.

Terlebih tim penguji disertasi memberikan nilai sangat memuaskan dan menyatakan bahwa disertasi tentang hubungan intim diluar nikah atas dasar suka sama suka itu tidak bisa dibatalkan karena secara akademik memenuhi standar metedologi.

Melalui pemikiran liberal itu semakin banyak orang yang menetang Islam dan semkin banyak kedunguan. Memang, Qur’an sudah mengatakan bahwa orang-orang munafik itu selalu merusak, tapi ketika kita mengatakan kepada mereka (orang munafik) kenapa merusak? Mereka akan menjawab sesungguhnya kami tidak merusak tapi kami memperbaiki. Inilah ciri mereka, mereka selalu merasa memperbaiki padahal mereka adalah kaum blunder yang merusak.

Seks diluar nikah

Kembali soal desertasinya doctor UIN itu, Ia menjelaskan bahwa ada dua jenis hubungan intim yang diperbolehkan di dalam Alquran. Yang pertama adalah jika adanya pernikahan, dan yang kedua yakni apabila ada milkul yamin. Konsep itu, ia katakan, ada di dalam Alquran surat Al Mukminun ayat 6. “Diperbolehkan berhubungan seksual dengan istri atau milkul yamin, yakni mitra seksual selain istri,” ujarnya. Selasa (3/9/2019).

Menurutnya, seorang laki-laki boleh berhubungan seksual dengan perempuan lain secara nonmarital (di luar nikah) atau Bahasa pulgarnya perzinahan, tidak melanggar secara hukum islam, dengan beberapa syarat: Pertama: Bukan zina. Zina di sini yang dimaksud adalah hubungan seksual yang dipertontonkan. Kalau (berhubungan seksual) di kamar, tertutup, itu bukan zina, itu halal. Kedua: pelakunya bukan perempuan yang sudah bersuami. Ketiga: tidak dilakukan secara homo. Ketiga: tidak dilakukan dengan sex party. Keempat: tidak boleh incest. Dan selain itu semua (hubungan seksual di luar nikah) boleh.

Menurut Aziz, penelitian tersebut dibuatnya karena munculnya kegelisahan serta keprihatinannya akan fenomena kriminalisasi hubungan seksual nonmarital atau hubungan seksual konsensual dalam artian seks diluar nikah dengan kesepakatan. Stigmatisasi tersebut melanggar Hak Azasi Manusia (HAM). Padahal dalam hukum Islam ada celah hubungan seksual normarital atau di luar pernikahan yang tidak melanggar secara hukum Islam.

Berdasarkan penelitiannya melalui konsep dan teori Milk Al Yamin Muhammad Syahrur (orang Suriah yang lama hidup di Soviet), dia menemukan celah tersebut. Masih menurut pendapatnya, lelaki dan wanita yg berhubungan seksual di luar nikah dan dilakukan di ruang privasi, sah sah saja. Orang lain yang mempermasalahkan, menggerebeknya, termasuk kriminalisasi.

Begini publik Menanggapi

Mengelitik, sebuah pertanyaan untuk penulis desertasi tentang hubungan seks diluar nikah tidak melanggar hukum islam, melalui pertanyaan “Pak doctor, apa yang anda rasakan dan akan anda lakukan, misalkan; bulan ini anak anda digauli oleh pacarnya. Lalu putus….bulan depanya bercampur dengan pacar barunya. Suka sama suka, di ruang ekslusif dan tertutup. Itu syarat yang anda maksud. Nah.. tak lama kemudian anak perempuan bapak hamil setelah digauli oleh pacarnya yang berbeda-beda?

“Pak Doktor, apa yg anda fikirkan atau anda rasakan jika tiba-tiba anda mempunyai syahwat pada mahasiswi anda yang gadis, lalu anda saling berkomitmen melakukan hubungan intim suka sama suka di ruang eksklusif yang tertutup seperti anda syaratkan . Menurut anda, bagaimana perasaan anda, istri anda , ibu anda dan ibu si mahasiswi itu ?”

Sementara itu, Wasekjen MUI Zaitun Rasmin. Dia mengatakan bahwa Sejarah membuktikan bhw ada pemikiran radikalisme diumat ini seperti khawarij yang radikal secara fisik, Syiah dan secara pemikiran yaitu liberalisme. Bagaimana tidak radikal hukum zinah yang sudah jelas terang-benderang dikatakan oleh Al-Qur’an & Sunnah adalah haram mereka malah mengatakan TDK haram dng tipu daya busuk penafsiran sampah mereka.

Lebih lanjut Zaitun Rasmini mengatakan, Azab Allah nyata maka dari itu Pemerintah, para Ulama dan semua elemen harus menyuarakan dan menentang pemikiran sesat ini sebab ini sangat berbahaya dan ingat, jng terpukau atau tertipu dng istilah disertasi, doktor dan ilmiah dari mulut kaum munafik sebab banyak yang disangka ilmiah padahal tempatnya sampah.

Pemikiran dalam disertasinya ini membuka peluang untuk dilakukan pembaruan hukum Islam. Dia bilang ini adalah celah hukum supaya tidak terjadi kriminalisasi seksual, karena dia prihatin dengan adanya hukum razam atas orang yang berzina padahal menurutnya itu belum tentu zina.

Pertanyaan lain, apakah untuk menjadi “Juhala’ dan sufaha” harus bergelar doktor terlebih dahulu? Dari pernyataanya dia seolah-olah menjadi pahlawan agar orang-orang bersyahwat liar itu tidak dikriminalisasi, tapi dia tidak merasa jadi pecundang karena sudah membuka lebar pintu seks bebas ?

Kawal hukum pidana Islam kita, hukum keluarga islam, hukum perdata Islam atau kompilasi hukum Islam dan KUHP kita sebab ada upaya dari kaum munafiq atau para doktor sampah untuk memasukan pemikiran sampah mereka kedalam Rancangan undang-undang (RUU) di DPR untuk dijadikan hukum positif. (7o3Rn4L)

Wallahu a’lam

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *