Pendidikan Masa Kini, Harapan Indonesia Dimasa Depan

Ilustrasi

Jurnalaktualindonesia.com.- Pendidikan di Indonesia dengan tujuan dalah membangun pondamen mental spiritual bangsa yang cerdas, beraklak mulia serta beriman kepada Tuhan Yang Maha Esa. Indonesia merupakan Negara hebat, dengan sumber daya alam yang hebat dan juga dengan sumber daya manusia yang tentunya tidak kalah hebat. Dengan budaya yang beraneka ragam macamnya, dan dengan ribuan pulau yang dimilikinya, patutlah Indonesia disebut sebagai Negara yang potensial, untuk maju dan berkembang menjadi negara yang lebih hebat lagi.

Menempati peringkat 4 pada Negara dengan total penduduk terbanyak se dunia dengan total jumlah berkisar 241.452.952(BPS) sangat berpotensi sekali bukan? apalagi dengan jumlah pemuda yang membuat negara lain iri, berkisar hingga 70 juta. Modal yang sangat mumpuni untuk membangun sebuah Negara yang Maju dan Berkembang.

Berkutip dari ucapan presiden kita, Ir. Soekarno “Beri aku sepuluh pemuda yang cinta negara ini (Indonesia), maka akan aku guncangkan dunia. Berkaca dari kutipan tersebut, maka tentu peran pemuda dalam membangun negeri ini sangat dibutuhkan. Dalam rangka pembangunan itu pula, tentu peran pemuda tidak terlepas dari salah satu elemen pembangunan ini, yakni Pendidikan. Pendidikan formal khususnya.

Pendidikan yang tidak hanya memberikan ilmu, mentransfer pengetahuan, namun juga mendidik karakter pemuda bangsa sebagai pemuda yang dapat menjadi pemimpin yang Jujur Adil, dan Ulet nantinya. Dan seperti kita ketahui, khususnya kepada siswa-siswi SMA Negeri di Indonesia bahwa KBM( Kegiatan Belajar Mengajar) kita juga disisipi oleh yang namannya pendidikan karakter.

Para pemerhati pendidikan, menyinggung persoalan pendidikan Indonesia masa kini. Mereka menilai tentang pendidikan di Indonesia, masih kurang baik. Karna tidak semua sekolah memenuhi standar pendidikan, dan masih banyak anak-anak di Indonesia yang belum merasakan pendidikan yang layak dan bahkan putus sekolah. Dan ironis, di Indonesia ada istilah suap-menyuap, “beli nilai” dan bahkan banyak tidak sedikit oknum yang diciduk apparat hukum sebab terkait kasus jual-beli ijasah di Indonesia.

Pendidikan di Indonesia sudah mendarah daging bagi kehidupan manusia di jaman globalisasi dengan permasalahan yang semakin rumit.Dapat kita pikirkan jika suatu bangsa tidak sadar akan adanya pendidikan atau tidak mendapatkan pendidikan yang selayaknya. Fakta miris terjadi di pelosok Indonesia tentang Pendidikan bukan hanya omongan belaka tetapi suatu fakta yang membuat kita sadar akan minimnya pendidikan di Indonesia.

Di Indonesia, sangat banyak sekolah yang tidak layak untuk dipakai sebagai tempat belajar atau untuk melaksanakan proses belajar mengajar. Karena tidak adanya bantuan dari pemerintah setempat. Pemerintahan di Indonesia juga kurang memperhatikan sekolah-sekolah dipelosok-pelosok negri yang kita cintai ini. Keadaan sekolah ini sangat memprihatinkan. Dimana banyak anak-anak di Indonesia yang kurang mampu, namun mempunyai semangat belajar yang tinggi. karena masalah ekonomi, yang membuat pendidikan mereka terhambat, sehingga mereka sering terganggu dalam proses belajar mengajarnya karena tempat yang tidak layak dan sangat mengganggu. Seperti misalnya atap yang bocor saat hujan, atau bahkan banjir. Pemerintah kita tidak menyadari keadaan pendidikan di Indonesia yang sangat memprihatinkan ini, sedangkan sangat sering siaran televisi menyiarkan berita tentang pendidikan di Indonesia yang sangat memperihatinkan ini.

Sebenarnya anggaran pendidikan di Indonesia tidaklah sedikit. Tetapi anggaran ini tidak dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk pendidikan. Banyak anggaran yang disalah gunakan oleh pihak yang berwenang hanya untuk kepentingan pribadi, anggaran pendidikan / uang bantuan sekola di “KORUPSI”, cukup miris pemerintah seolah tutup mata dengan kejadian-kejadian seperti ini. Semua pihak atau kalangan bawah merasa dirugikan karena adanya korupsi. Korupsi sangat mencoreng moral aspek pendidikan. Hal itu terjadi karena kurangnya pendidikan akhlak.

Kita sebagai manusia, pastilah memiliki cita-cita. Dan dari sekolahlah kita memulai untuk belajar agar bisa menggapai cita-cita kita. Kita mulai belajar dan mendapat ilmu dan juga ijasah, surat yang paling dibutuhkan sebagai bekal masa depan kita, khususnya dalam berkarir. Dan lagi-lagi karna uang, orang yang tidak memenuhi pendidikanpun bisa mendapat ijasah hanya dengan “membeli” bahkan dengan nilai yang sempurna.

Ini sangat tidak adil bagi masyarakat bawah adalah orang yang dengan mudah dan hidup lebih dari cukup yang bisa membeli ijasah beserta nilai-nilainya, bisa mendapat jabatan yang tinggi dengan upah gaji yang memuaskan pula. Tapi bagaimana dengan masyarakat kalangan bawah, yang hanya bermodalkan niat dan pendirian yang kokoh untuk mencapai pendidikan yang tinggi, yang belum terjamin masa depannya, kehidupan karirnya untuk mendapatkan kedudukan selayak usaha dan keahlian yang mereka punya. Semua sangat tidak adil.

Masih adakah kesempatan untuk masyarakat kalangan bawah? Sekarang di Indonesia, kebanyakan bukan masalah yang paling utama, yaitu SKILL, namun seberapa besar uang “sogokan” nya. Hal ini bukan rahasia umum lagi pemerintah dan pejabat wewenang mengetahui kejadian ini tetapi lagi-lagi mereka menutup mata. Keadilan di Indonesia sudah mulai pudar orang dapat menghalalkan segala cara untuk bisa hidup dengan mewah.

Andai saja pemerintahan kita jauh lebih tegas pastilah tidak akan ada yang merasa dirugikan. Kurangnya aspek pendidikan keagamaan, akhlak dan berkehidupan bermasyarakat. Kembali ke masyarakat kalangan bawah, banyak anak-anak di Indonesia yang tidak bersekolah karna tidak memiliki biaya. Mereka menghabiskan hari-hari mereka untuk mencari uang, yang seharusnya dilakukan orangtua mereka.

Mereka kebanyakan mencari uang dijalanan, menjadi tukang pengamen jalanan, peminta-minta  dan bahkan ada juga yang bekerja sebagai tukang angkut, yang biasanya bebannya sangat berat, pekerjaan yang seharusnya dilakukan oleh orang dewasa. Sangat menyedihkan mengetahui mereka masih anak-anak dibawah umur, yang seharusnya mereka menerima pelajaran disekolah atau bermain dengan teman-temannya.

Siapakah yang harus bertanggung jawab atas semua ini? Butakah para pemerintah yang “sudah pasti” pernah melihat kejadian seperti ini. Bagaimana dengan masa depan anak-anak itu? Masa depan bangsa kita? Pandangan Negara lain tentang kejadian ini? Bisakah pemerintah mendirikan pos untuk ana-anak ini mengetahui betapa penting dan berharganya arti pendidikan. Tidak perlu mewah dan megah, tetapi bisa membuat mereka mengerti.

Saya yakin ada banyak sekali sukarelawan ataupun pahlawan pendidikan yang senantiasa membantu mereka. Ini semua juga demi masa depan bangsa kita. Tulisan saya ini memang hanya menjelaskan kelemahan pendidikan di Indonesia, namun bukan berarti tidak ada kelebihannya. Tidak sedikit anak atau pelajar Indonesia yang mengharumkan nama pendidikan Indonesia melalui pendidikan, apapun itu bentuknya.

Banyak pelajar di Indonesia yang berhasil mengharumkan nama pendidikan di Indonesia, sampai keluar negri. Sayangnya, meski banyak sekali sekolah atau universitas di Indonesia, pelajar di Indonesia lebih banyak memilih melanjutkan pembelajaran diluar negri. Kenapa? Apa karena diluar negri lebih bagus, atau lebih memadai, atau karna gengsi? Sangat disayangkan pelajar di Indonesia lebih memilih sekolah diluar negri. Harapan kita semoga pelajar di Indonesia bisa membawa dampak positif, bukannya tertular dampak negative. Semoga pelajar di Indonesia bisa membawa nama baik dan menjaganya diluar sana.

Bagaimana cara memperbaiki system pendidikan di Indonesia? Di harapkan kepada pemerintah, khususnya Dinas Pendidikan terkait untuk bisa lebih membuka matanya, untuk menyadari bahwa masih sangat banyak diluar sana anak-anak Indonesia yang membutuhkan uluran tangan dan hati nurani kita untuk muwujudkan keinginan mereka untuk merasakan pendidikan yang layak, untuk melangkah mencapai impian dan cita-cita yang mereka miliki, dan untuk memajukan generasi kita kedepannya.

Bayangkan bagaimana kedepannya, keadaan Negara kita tanpa adanya pelajar-pelajar yang terdidik, yang mempunyai skill yang baik, yang bisa membawa perubahan di Indonesia. Bisakah pemerintah dan kita sebagai warga Negara Indonesia membantu mengurangi jumlah anak-anak jalanan yang kurang pendidikan? Indonesia membutuhkan para pahlawan tanpa tanda jasa, para relawan-relawan yang memiliki hati nurani.

Indonesia membutuhkan “Perubahan!” Berilah kesempatan kepada masyarakat kecil. Buatlah mereka merasa “Merdeka” tanpa adanya penindasan dari masyarakat kalangan atas. Berilah kesempatan pendidikan kepada anak-anak Indonesia yang kurang mampu.Pendidikan juga mengajari kita untuk saling membantu. Pendidikan juga mengajari kita tentang kebaikan-kebaikan, tentang keagamaan, tentang pahala dan dosa. Semua aspek dalam kehidupan kita, bahkan hal yang terkecilpun telah diajarkan dari satu kata penuh makna dan penting dalam kehidupan kita, “Pendidikan”.

Apakah kita bisa tanpa pendidikan? Tidak! Tidak akan ada rasa belas kasihan, kemanusiaan, bahkan tidak akan ada yang cerdas! Sekarang kita hidup di jaman serba modern yang semakin mempermudah kita mencapai pendidikan yang layak. Kita malah seharusnya semakin maju, berkembang pesat dan berpikir lebih cerdas dalam segala hal khususnya pendidikan, karena apapun yang kita butuhkan, tersedia pada jaman serba modern ini.

Namun, kurangnya minat kita, lebih banyak orang yang terlena dari pada memanfaatkan dan mengembangkannya. Dari pendidikan-lah kita belajar memanfaatkan. Jadi diharapkan pendidikan di Indonesia lebih diketatkan dan mengikuti perkembangan dunia sehingga kita tidak ketinggalan dari Negara lainnya.

Ada pesan penting disini, untuk pemerintah dan dinas pendidikan terkait, “ayolah!” kita perbaiki sistem pendidikan yang seharusnya kita perbaiki. Mari kita majukan pendidikan di indonesia dengan kredibilitas, aspek akhklak dan moral serta tanggungjawab  untuk regenerasi bagi seluruh putra putri bangsa indonesia kedepan yang lebih baik (7o3Rn4L)

Wassalam

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *