February 28, 2020

Warga Singgung Tindakan Pemda Soal Aktivitas Galian C

Kegiatan Galian C di Sungapan, Soreang.

Bandung, (JAI).- Warga Kabupaten Bandung, khususnya Kecamatan Soreang mempertanyakan keberadaan galian C di wilayah Kampung Sungapan Desa Sadu yang semakin masif dan beresiko menimbulkan bencana alam.

Wawan Maryana salah seorang tokoh masyarakat Soreang, mengaku prihatin dengan semakin rusaknya lingkungan disekitar Sungapan akibat galian C yang dilakukan secara serampangan tanpa mengindahkan keseimbangan lingkungan.

Sebenarnya, kata dia selama ini bukan tidak ada upaya dari masyarakat sekitar untuk menghentikan aktivitas tersebut. Namun sayangnya meskipun pernah menimbulkan korban nyawa beberapa waktu lalu akibat longsor, aktivitas galian C tersebut terus berlangsung.

“Bukannya kami tidak keberatan punya kampung halaman dirusak orang. Tapi mau bagaimana lagi, tak pernah digubris oleh pemerintah juga. Sepengetahuan kami, tambang galian C itu tidak punya izin. Memang untuk kawasan Soreang sebenarnya pemerintah tidak pernah mengeluarkan izin untuk aktivitas galian C seperti itu,” kata Wawan di Soreang, Senin (9/9/2019).

Menurut Wawan, keberadaan galian C di tepi Jalan Raya Soreang-Ciwidey itu bermula sekitar tahun 70 an lalu. Saat itu seorang warga sekitar mengeruk lahan miliknya untuk keperluan membangun rumah. Dari sana lambat laun terus meluas, meskipun sempat beberapa kali dihentikan. Kata dia, galian C semakin meluas hingga hari ini, dan dilakukan dengan masif tanpa memperdulikan keseimbangan lingkungan dan juga keselamatan manusia yang ada di sekitarnya.

“Korban nyawa manusia sampai dua orang akibat longsor beberapa tahun lalu kok enggak jadi pelajaran yah. Kenapa justru sekarang semakin parah dan dilakukan terang terangan meskipun enggak punya izin. Hal ini yang menyakitkan dan membuat kami prihatin sebagai pribumi,”ujarnya.

Sebentar lagi, kata Wawan akan masuk musim hujan, keberadaan galian C yang menyisakan tebing tebing curam, gersang dan tandus, sangat rawan terjadi longsor. Padahal, Jalan Raya Soreang-Ciwidey itu sangat padat lalu lintas. Hal ini tentu saja sangat membahayakan pengguna jalan dan penduduk di sekitarnya.

“Kami harap pemerintah jangan menutup mata dan saling lempar tanggung jawab. Jangan menunggu ada korban nyawa lagi dong, harus ada tindakan tegas dan antisipasi bencana, bencana itu bukannya malah ditantang seperti itu,” katanya.

Berdasarkan pantauan, aktivits galian C di Kampung Sungapan itu semakin parah. Tanah bekas galian terlihat gersang, tandus serta sewaktu waktu bisa ambrol menutup jalan dibawahnya.  Beberapa alat berat  mengeruk material tanah dan batu. Dump truk pengangkut tanah dan batu hilir mudik keluar masuk dari area penambangan. Pasir dan kerikil sisa galian nampak berserakan di Jalan Raya Soreang-Ciwidey di depan lokasi penambangan. Jika tidak hati hati, bisa saja pengendara motor atau bahkan mobil jatuh tergelincir.

“Paling parah kalau sedang hujan, lumpur bersama kerikil turun ke jalan. Lumpur tanah merah itu penuh disepanjang jalan di Sungapan itu, pokoknya kalau enggak hatu hati bisa tergelincir. Dan memang banyak kejadian motor yang jatuh kalau musim hujan itu,” kata Lili Darma (49) salah seorang pengguna jalan yang mengaku setiap hari melintas di Jalan Raya Soreang-Ciwidey itu.  (Pena)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *