SPBU Watudambo Minahasa Utara Resahkan warga

Sulut | Jurnal Aktual Indonesia

Stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) Watudambo Kecamatan Kauditan Kabupaten Minahasa Utara menjadi sorotan publik khususnya Warga sekitar.

Seorang warga, Tonny Katuuk, kepada wartawan JAI menegaskan keberadaan SPBU Watudambo sudah sangat meresahkan dan membuat tidak nyaman keluarganya dan para tetangganya .

“Pada awal dibangun, SPBU tersebut sudah sangat meresahkan kami sekeluarga, karena rumah kami mendapat dampak dari pembangunan dan setelah SPBU beroperasi dampaknya juga lebih besar,” tegas pak Tonny Katuuk beserta istrinya,Cico, ( Rabu 11/12-2019).

Dirinya menjelaskan, dengan kehadiran SPBU yg telah mengurung rumah warga dengan pagar, itu sudah jelas sangat tidak manusiawi.

“Kami pemilik rumah telah menjadi korban oleh pembangunan SPBU, kalau hujan rumah kami tergenang air, belum lagi udara tercemar karena kalau bau bensin setiap hari harus kami hirup ,” katanya dengan nada tinggi.

Sementara itu, Royke Karundeng warga lainnya juga mengeluhkan hal yang sama. Menurut dia, sebelum SPBU Watudambo di bangun, rumah mereka telah lama berdiri, dan dia kemudian heran SPBU itu akhirnya mendapat izin.

“Kami mohon kepada pemilik SPBU kiranya dapat bertemu dengan kita karena selama ini belum pernah bertemu dengan pemilik SPBU, ” tegas Royke yang merupakan salah seorang keluarga Toni Katuuk.

Yang jelas mereka merasa terganggu, karena tanah dan rumah mereka memang sudah ada sebelum pembangunan SPBU.

“rumah kami saat ini menjadi sangat tidak nyaman. Selain itu pada saat hujan akan digenangi air, kami juga khawatir dampak lain yang lebih parah karena harus tinggal di SPBU tersebut,” beber salah satu warga yang enggan disebut namanya sembari mengaku heran karena karyawan SPBU pernah melarang ketika mereka melakukan aktifitas yang menggunakan api.

“Kalau begitu kami harus kemana? Rumah kami hanya ini satu-satunya, kami harus masak setiap hari, kok masak dilarang,” herannya.

Sementara itu dalam kesempatan  yang sama, Royke Karundeng dalam pengamatannya menilai ada keanehan dalam pembangunan SPBU Watudambo, dia malah menuding pembangunan tersebut telah melangkahi prosedur.

“Izin SPBU ini harus dipertanyakan.
Masa bisa keluar dengan mudah? Sekarang apakah pihak SPBU dapat menjamin keamanan atau keselamatan keluarga kita? Pada waktu membangun SPBU, Alat atau pekerjaan fibron bangunan kami sampai retak, kami juga sudah membuat laporan Polisi namun belum ditindak lanjuti,” ungkapnya.

Pihak SPBU Watudambo sendiri ketika di konfirmasi belum memberikan tanggapan secara jelas terkait keluhan ini

“kita cuma petugas SPBU, kalau soal rumah tersebut boleh tanyakan langsung ke bos kami,” ujar petugas SPBU.

Hingga berita ini terbit, tim Investigasi media JAI, masih melakukan penelusuran dalam permasalahan tersebut. (Ferry M)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *