Peredaran Oli Palsu di Indonesia Menjadi Sorotan Aparat

Bandung (JAI), Banyaknya jenis dan produk pelumas yang dijual di Indonesia membuka celah bagi pihak tak bertanggungjawab. Yakni dengan membuat dan memasarkan pelumas palsu.

Menurut Ketua Bidang Pengembangan Asosiasi Produsen Pelumas Dalam Negeri (Aspelindo), Andria Nusa, kasus pemalsuan pelumas seakan jamak terjadi dalam industri otomotif di Tanah Air.

Dia pun membeberkan data jumlah oli palsu yang beredar di Tanah Air. Angkanya cukup mengerikan. “Perkiraan, sekitar 15 persen dari total jualan pelumas di Indonesia yang mencapai 950 ribu kilo liter itu palsu,” kata Andria, di Jakarta.

Cukup besarnya angka pelumas palsu tentu punya dampak besar, tak cuma produsen pelumas yang mereknya dipalsukan, namun juga konsumen pemilik kendaraan.

“Dari Rp30 triliun omzet nasional pelumas, berati sekira Rp4,5 triliun kerugiannya. Dampak tidak langsung, umur pakai mesin kendaraan jadi berkurang,” ucapnya.

Beredarnya oli mesin palsu sangat meresahkan saat membeli oli. Oli palsu yang beredar di pasaran tidak sedikit yang berasal dari merek atau brand terkenal.

Ternyata sumber oli palsu tersebut bisa datang dari dua sumber.
Hal ini disampaikan langsung oleh Rialdy Fasha selaku Training and Technical Engineering Motul Indonesia yang menyebutkan bahwa oli palsu bisa ada dari dua sumber.

“Yang disebut oli palsu itu datang dari dua sumber, yang pertama oli tersebut merupakan oli hasil dari daur ulang oli bekas. Sedangkan yang kedua oli tersebut memang oli baru namun dengan kualitas sangat buruk dan dikemas pakai merek terkenal,” ucap Rialdy.

“Kedua sumber sumber ini sama-sama mencari untung yang sebesar-besarnya namun dengan modal yang sedikit,” tambahnya.

Oli hasil dari daur ulang adalah oli bekas yang diolah sedemikian rupa dengan menyuling dan mencampurkan bahan kimia lainnya agar mendapatkan oli yang kembali jernih.

Untuk oli dengan kualitas jelek yang dimasukkan ke dalam botol oli merek terkenal dimaksudkan untuk meminimalkan modal saat oli tersebut dijual.
Maka tidak heran banyak dijual baik di bengkel maupun di toko online dengan harga yang biasanya lebih murah.

Kementerian Perindustrian (Kemenperin) resmi mengeluarkan Peraturan Menteri Perindustrian RI Nomor 25 Tahun 2018 Tentang Standar Nasional Indonesia ( SNI) Pelumas Secara Wajib.

Aturan ini pun siap diimplementasikan secara penuh pada 10 September 2019. Adapun salah satu tujuan wajib SNI untuk pelumas ini adalah untuk memberikan perlindungan yang lebih baik pada konsumen terkait mutu dari pelumas.

Namun dalam penerapannya, dianggap belum bisa langsung menghapus peredaran oli palsu di pasaran. Direktur Industri Kimia Hilir dan Farmasi Direktorat Kemenperin Taufiek Bawazier, mengatakan masalah peredaran oli palsu atau ilegal memang menjadi momok yang akan bergantung dari sistem pengawasan di lapangan.

“Apakah yang ilegal langsung hilang, itu balik lagi ke pengawasan dan penegakan hukum. Kalau kami (Kemenperin) hanya soal aturan saja, kami melihat ini (aturan) didesain untuk negara suatu kebutuhan untuk membangun industri, melindungi masyarakat, dan meningkatkan daya saing,” ujar Taufiek.

Meski tak bisa langsung menghapus peredaran oli palsu, namun menurut Taufiek dengan adanya aturan wajib SNI setidaknya secara berlahan nantinya bisa menekan peredaran oli palsu.
Apalagi bila penerapan sistem bisa menjangkau lebih luas sampai ke wilayah kecil yang umumnya menjadi tempat potensial kemunculan oli ilegal.

Dalam hal pengawasan, Taufiek mengatakan sebenarnya menjadi masalah bersama, bukan hanya dari suatu badan tertentu. Peran masyarakat luas yang notabennya sebagai konsumen juga dibutuhkan, karena kerugian dari oli palsu juga berdampak dari yang menggunakan, bukan hanya perusahaan.

“Adanya regulasi ini tentu merupakan upaya pemerintah sebagai regulator, jadi jawabannya simple saja tergantung dari bagaimana pengawasannya, sejauh mana wilayah-wilayah yang bisa diawasi. Contoh seperti illegal fishing saja, sampai saat ini juga masih belum berhenti jadi balik lagi ke pengawasan,” Kata Taufiek.

Tidak hanya itu, adanya regulasi ini juga memungkinkan pemerintah bisa melakukan pendekatan ke pihak pabrik oli. Hal ini berguna sebagai pendataan, karena biasanya pabrikan pelumas punya hitungan tentang merk-merk yang sering dipalsukan.

Tim Investigasi Media Jurnal Aktual Indonesia, hingga berita ini diturunkan terus melakukan penelusuran terhadap oknum-oknum yang diduga kuat melakukan tindakan ilegalisasi pembuatan oli palsu di wilayah Bandung Provinsi Jawa Barat ini berdasarkan informasi para narasumber dan data yang diperoleh. (TIM)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *